Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts
Showing posts with label Dunia Anak. Show all posts

Sunday, November 22, 2009

Rumaisha, Sariawan atau Flu Singapur?

Pada awalnya kami (aku dan istri) tidak begitu 'ngeh' dengan perilaku anak kami yang ke-3 Rumaiha yang suka menarik-narik ujung bibir atasnya. Kami pikir itu hanya iseng karena kulit bibir atas ada yang kering. Kira-kira dua hari tanggal 13 dan 14 November 2009 dia erbuat seperti itu.

Hari Minggu sore tanggal 14 November 2009 badan Rumaisha mulai terasa hangat walaupun tidak sampai panas, yang bikin kami kaget dan khawatir Rumaisha mulai tidak mau makan dan minum. Bibirnya sedikit bengkak kemerahan, ada bercak-bercak putih di bibir dalam dan gusi, serta dua bintik merah di dagu. Sariawan nih Rumaisha!

Pertama-tama kami hanya mengolesi bibir Rumaisha dengan minyak habbatusauda dan minyak zaitun, memberi sesendok madu dan sesendok sari kurma yang kami berikan rutin pada pagi hari, siang dan malam. Kami harapkan dengan memberi madu dan sari kurma badannya akan terus fit karena tidak mau makan.

Iseng-iseng browsing di internet berkaitan dengan gejala-gejala yang dialami Rumaisha ini...waduh ternyata ada kemiripan dengan wabah 'Flu Singapur' yang lagi ditakuti ibu-ibu di milist nih! jangan-jangan...

Hasil konsultasi sama dokter...Rumaisha hanya sariawan biasa, kebetulan anak dokter tersebut juga mengalami sakit yang sama...Alhamdulillah! Dokter hanya menyarankan dikasih candistatine, parasetamol, amoxilin, dan enervon c...semuanya dalam bentuk sirup tentunya.

Tapi kami memutuskan hanya akan mengobati Rumaisha dengan habbatusauda, minyak zaitun, madu dan sari kurma. Alhamdulillah setelah dua hari berlalu Rumaisha mulai ceria bernyanyi-nyanyi, bermain dan mulai mau makan seperti jus mangga, bubur dan biskuit...Alhamdulillah sekali lagi kami beryukur atas nikmat sehat dan kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT...sekaligus kami tambah kagum akan khasiat habbatusauda, zaitun, dan madu.

Saturday, August 1, 2009

9 Cara Membuat Anak Pintar

Sumber : detikhealth

Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.

Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews, Sabtu (1/8/2009):

1. Bermain permainan yang berpikir
Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks.

2. Bermain musik
Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.

3. Pemberian ASI
ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.

4. Membiasakan berolahraga
Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.

5. Menyingkirkan makanan siap saji
Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.

6. Mengembangkan rasa ingin tahu
Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.

7. Budayakan membaca
Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.

8. Mengajarkan kepercayaan diri
Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.

9. Memberikan sarapan yang sehat
Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.

Tuesday, August 19, 2008

Dasar Ilmiah & Psikologis Melatih Anak Beribadah Sejak Dini

Sumber:
Buletin Panduan Orang Tua & Guru
"KIAT PRAKTIS Menjadikan puasa anak kita asyik dan menyenangkan"
Oleh Yayasan Kita & Buah Hati
Pengasuh : Neno Warisman, Elly Risman, SPsi., Ery Soekrisno, Sumarti M, Thahir, SPd.

Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang; Kapan seorang anak dilatih untuk sholat? Rasulullah menjawab: "Jika ia sudah bisa membedakan tangan kanan dan tangan kirinya".

Kalau kita memperhatikan hadits diatas, menurut bapak ibu usia berapa anak kita membedakan tangan kanan dan tangan kirinya?. Tentu sekitar 2 sampai 3 tahun bukan?

Pada hadits yang lain Rasulullah saw bersabda: "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat pada usia 7 tahun dan pukullah ia pada usia 10 tahun (jika meninggalkannya)". (HR ABu Daud dan Tirmidzi, dari Sabrah bin Ma'bad Al Juhaini ra).

Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad Fil Islam mengatakan bahwa perintah mengajar sholat ini dapat disamakan untuk ibadah lainnya seperti puasa dan haji serta ibadah lainnya.

Bagaimana dasar ilmiah & psikologisnya melatih anak beribadah sejak dini?

SATU. Hasil temuan tentang otak yang dipublikasikan bulan Oktober tahun 1997 di Amerika menunjukkan bahwa pada saat lahir Allah SWT telah membekali manusia dengan 1 milyar sel-sel otak yang belum terhubungkan satu dengan yang lainnya.
Sel-sel ini akan saling berhubungan bila anak mendapat perlakuan yang penuh kasih sayang, perhatian, belaian bakan bau keringat orang tuanya!. Hubungan sel-sel tersebut mencapai 1 trilyun begitu anak berusia 3 tahun. Dari usia 3 sampai 11 tahun terjadi proses strukturisasi atau pembentukan kembali sambungan-sambungan tersebut. Hal-hal yang diulang-ulang akan membuat hubungan antara sel-sel terentu menjadi semakin kuat, sedangkan yang tidak diulang-ulang akan menjadi lapuk dan gugur. Bila temuan ini kita hubungkan dengan hadits diatas, maka benar Rasulullah bahwa kita perlu memperkenalkan berbagai hal kepada anak kita termasuk di dalamnya masalah beribadah sedini mungkin dan mengulang-ngulangnya selama 7 tahun, sehingga pada usia 10 tahun anak kita bukan saja sudah mampu melakukannya dengan baik tapi juga insya Allah telah memahami makna pentingnya ibadah tersebut, sehingga ia rela menerima sangsi (berupa pukulan, sebaiknya pada telapak kaki), bila ia tidak emnunaikan ibadah tersebut dengan sebaik-baiknya.

DUA. Kita mengetahui bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah, sehingga mudah dibentuk sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang tuannya.

TIGA. Pada usia muda, anak menerima nilai dan kebiasaan yang kita tanmkan dengan mempercayainya tanpa alasan. Usia 0-3 tahun ego anak belum begitu berkembang sehingga dia tidak seperti anak yang lebih besar yang egonya sudah mengalami perkembangan lebih baik, sehingga gampang protes.

EMPAT. Masa anak-anak adalah masa yang sangat menentukan bagi pembentukan kepribadian nya kelak. Hal-hal yang baik atuapun yang buruk terjadi dimasa belita mempunyai pengaruh besar dalam kehidupannya kelak.

LIMA. Manfaatkan daya ingat anak yang kuat semasa kecil seperti pepatah Arab : Belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir diatas air.

ENAM. Sebelum usia 5 tahun tokoh identifikasi anak adalah orang tua. Bila dia bertambah besar dan lingkungan pergaulannya sudah melebar dari hanya rumah maka anak juga mulai mngidentifikasi orang-orang lain disekitarnya.

TUJUH. Mendidik anak tidak sama dengan mengajar. Mendidik anak adalah membantu anak mencapai kedewasaan baik dari segi akal, ruhiya dan fisik. Jadi apa yang kita lakukan adalah membantu anak kita untuk kenal dan tahu sesuatu, kemudian dia suka atau mau lalu bisa, kemudian menjadi biasa atau terampil mengamalkannya. Hal ini bukan saja membutuhkan waktu yang lama tetapi juga kemauan yang kuat, kesabaran, keuletan dan semakin awal memulainya semakin baik.

Monday, August 4, 2008

Mendidik Anak Gemar Membaca

Membaca adalah pintu gerbang menuju dunia ilmu pengetahuan.Membaca adalah keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh setiap manusia khususnya di zaman modern ini. Sebagaimana kita ketahui dalam kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari tiga macam keterampilan dasar ini yaitu membaca, menulis dan berhitung.

Kegiatan membaca juga merupakan salah satu solusi bagaimana mengurangi kecenderungan anak-anak yang terlalu sering menonton TV. Permasalahannya adalah bagaimana supaya anak-anak kita gemar membaca?

Ada beberapa pengalaman keluarga kami dalam mendidik anak-anak supaya gemar membaca diantaranya :

Usia Dini, lakukan mengajar membaca atau paling tidak mengenalkan hurup kepada anak-anak sejak usia dini, ya mungkin mulai usia 2 tahun. Khonsa, putri pertama kami sudah bisa membaca sejak usia 3 tahun. Pada waktu itu kami sudah mengenalkan hurup dengan banyak bermain puzzle sejak usia Khonsa 1,5 tahun. Kemudian kami lanjutkan dengan mengajar ba-bi-bu-be-bo yang ternyata metode ini cocok dengan Khonsa sehingga umur 3 tahun Khonsa sudah bisa membaca.

Motode, cari matode yang paling tepat yaitu yang paling disukai oleh anak kita. Metode belajar membaca ba-bi-bu-be-bo yang cocok untuk Khonsa ternyata tidak cocok untuk anak kami yang kedua Zaid. Walaupun sudah mengenal hurup akan tetapi ketika kami tingkatkan ke metode ba-bi-bu-be-bo ternyata sangat sulit untuk Zaid. Kemudian kami coba merubah metode dengan cara belajar membaca LATUCA yang merupakan permainan mencocokan kata dan gambar. Hasilnya ternyata Zaid lebih cepat paham dan pada saat umur 4 tahun Zaid berhasil dalam usahanya untuk membaca.

Proses, seperti pada umumnya dunia anak-anak maka proses yang harus dilakukan tentu saja harus disesuaikan dengan dunia anak-anak yaitu BERMAIN. Kita tidak perlu memaksakan mereka untuk belajar apalagi ketika mereka tidak mood. Lakukan pada saat mereka kelihatan lagi mood dengan cara bermain atau ketika sedang berjalan-jalan santai sambil ngobrol sehingga mereka merasa senang.

Penghargaan, beri mereka pujian dan penghargaan ketika mereka berhasil dalam meningkatkan kemampuan belajar mereka. Wah....Zaid sekarang sudah bisa mengenal buah-buahan....sudah bisa berhitung sampai sepuluh....mau hadiah nggak?
Dengan memberi rangsangan berupa hadiah yang mereka suka akan semakin meningkatkan motivasi mereka untuk belajar.

Bacakan Cerita, anak-anak sangat suka kalau mereka dibacakan cerita apalagi kita membaca cerita dengan karakter dan suara-suara seuai tokoh cerita. Misalnya ketika kucing sedang bicara selingi setiap beberapa kata dengan suara kucing...miaouu...dijamin mereka akan ketagihan untuk terus dibacain cerita!

Toko Buku, sering-sering ajak mereka ka toko buku dan biarkan mereka memilih buku apa saja yang mereka suka, jangan terlalu mengatur apa yang harus mereka baca. Dengan diberi kebebasan memilih buku yang mereka suka maka mereka pasti akan lebih semangat lagi membaca.

Sabar, itulah kunci dari semuanya. Mungkin pada saat kita mengajar mengenalkan hurup pada mereka seolah-olah mereka susah sekali untuk paham, tapi ketahuilah mereka sebenarnya merekam setiap apa yang kita ajarkan dan suatu saat kita akan takjub ketika mereka mengulang apa yang kita ajarkan!

Itulah beberapa pengalaman kami mendidik anak-anak supaya gemar membaca. Alhamdulillah mereka sekarang lebih suka membaca dari menonton televisi yang mungkin sebagian besar orang tua mengeluhkan masalah ini.

Mi....kapan beli majalah yang baru! yang ini sudah bosan bacanya!

Thursday, July 17, 2008

Hidup Bahagia Tanpa TV (# 2)

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Sabar. Ah… rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun.

Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki usia lima tahun. Atau… kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah payah berusaha ? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit.

Apa yang membuat para orangtua semakin menipis kesabarannya ? Selain karena lemahnya tujuan dan tidak adanya visi ke depan dalam mendidik anak, banyaknya waktu menonton TV, otak kita cenderung pasif. Ron Kauffman, pendiri situs TurnOffTV.com, menunjukkan bahwa selama menonton TV pikiran dan badan kita bersifat pasif (berada pada kondisi alfa). Tidak siap berfikir. Jika keadaan ini terus berlanjut, orang tua akan cenderung bersikap dan bertindak secara reaktif. Bukan responsif. Mereka mudah marah ketika mendapati anak melakukan apa yang dirasa mengganggu. Mereka juga mudah bertindak kasar jika anak tidak melakukan apa yang diinginkan orang tua. Apalagi jika sebelumnya mereka sudah memiliki kecenderungan temperamental, semakin cepatlah mereka naik darah.

Diluar itu, secara alamiah kita- anak-anak maupun dewasa – cenderung tidak siap melakukan pekerjaan lain secara tiba-tiba jika sedang asyik melakukan yang lain. Kalau Anda sedang asyik nonton pertandingan sepak bola, telepon dari Bos Anda pun bias terasa sangat mengganggu. Apalagi kalau gangguan itu berupa permintaan istri untuk membersihkan kamar mandi, keasyikan menonton atraksi kiper menepis bola bisa membuat emosi Anda mendidih. Apa lagi jika gangguan itu datang dari rengekan anak Anda yang minta diantar pipis ….!

Jika menonton TV sudah menjadi bagian hidup orangtua yang menyita waktu berjam-jam setiap harinya, pola perilaku yang reaktif, impulsif dan emosional itu lama-lama menjadi karakter pengasuhan. Semakin tinggi tingkat keasyikan orang tua menonton TV, semakin tajam “Kepekaan “ mereka terhadap perilaku anak yang “mengganggu” dan “membangkang”. Akibatnya, semakin banyak keluh kesah, kejengkelan dan kemarahan yang meluap kepada anak-anak tak berdosa itu. Lebih menyedihkan lagi kalau lingkaran negatif menumbuhkan keyakinan bahwa anak-anak (sekarang) memang susah diatur.


Matikan TV dan Berbahagialah

keluargaSatu masalah lagi yang sering dihadapi orang tua: merasa tidak ada waktu untuk mendampingi anak. Kesibukan selalu merupakan alasan klasik yang membenarkan hampir semua kesalahan kita. Kita tidak punya waktu untuk anak. Tetapi kita memiliki kesempatan untuk menonton TV begitu tiba di rumah, karena orang sibuk memerlukan hiburan. Sebuah alasan yang sangat masuk akal ketika istri tak lagi cukup untuk menghibur hati.

Nah… Apakah tidak ada jalan untuk membalik keadaan ? Matikan TV dan hidupkan hati Anda. Kalau Anda merasa benar memerlukan TV, susun jadwalnya. Pastikan Anda menonton, misalnya maksimal satu jam sehari semalam atau setengah dari itu, dan tentukan Anda hanya melihat tayangan yang benar-benar bergizi. Bukan cerita-cerita kosong yang tidak berarti.

Begitu Anda mematikan TV dan mengalihkan hiburan dalam bentuk bercanda dengan anak istri, insya Allah Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan ganda sekaligus. Anda mendapatkan waktu dan kesempatan untuk bercanda, maupun bercakap-cakap – bukan sekedar berbicara dengan orang-orang yang Anda cintai; Anda juga menabung kesabaran; sekaligus Anda membangun kedekatan hati dengan keluarga.

Al Qur’an membedakan berbicara dengan bercakap cakap (ngobrol). Berbicara bersifat satu arah, sedangkan ngobrol bersifat mengalir dimana kita saling mengajukan pertanyaan, tapi bukan berupa Tanya jawab. Ngobrol membuat hati semakin dekat satu sama lain. Ngobrol juga menjadikan perasaan kita lebih hidup. Tentu saja, apa yang kita obrolkan juga berpengaruh.

Didalam surat Ash Shaaffaat, Allah ‘azza wa jalla menunjukkan bahwa ngobrol merupakan salah satu kenikmatan surga. Allah Ta’ala berfirman, “Disisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap” (Ash Shaaffaat -37- : 48 – 50)

makan bersamaYa, bercakap-cakap dengan obrolan yang baik. Inilah kenikmatan surga yang bisa kita hadirkan di rumah kita tanpa harus mati terlebih dahulu. Pada saat ngobrol, kita bias memberi dukungan sekaligus dorongan positif bagi anak-anak kita. Ini merupakan salah satu yang sangat mereka perlukan untuk mengembangkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Dukungan dan dorongan positif yang kita berikan pada saat yang tepat, sangat berperan untuk membangun diri dan percaya diri mereka. Tetapi ini sulit sekali kita berikan kepada mereka jika kesabaran tidak ada, waktu tidak punya dan keakraban tidak terjalin. Kita berbicara kepada mereka, tetapi tidak komunikasi. Kita mendengar suara mereka, tetapi tidak mendengarkan perkataan dan isi hatinya. Sebabnya, otak kita sudah penat karena beban kerja dan tayangan TV yang menyita energy otak kita.

Nah… Omong-omong, kapan terakhir kali Anda ngobrol dengan anak Anda? Sudah lama… ?

Sumber : Suara HidayatullahJuli 2008 Kolom Parenting

Hidup Bahagia Tanpa TV (# 1)

Television
Oleh Muhammad Fauzil Adhim

Setiap anak harus mengembangkan perasaan bahwa mereka dapat ”mengubah dunia” dan memiliki kekuatan dari dalam (innerstrength) dan percaya bahwa mereka adalah orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan. Secara alamiah, dorongan ini muncul pada diri anak semenjak bayi. Mereka belajar menggunakan tangis, senyum, gerakan dan suara-suara untuk memanggil orangtuanya, meminta perhatian dan “memaksa” orang tua memenuhi keinginannya.

Usia dua tahun, dorongan untuk mengembangkan kemampuan “mengubah dunia” itu semakin menguat. Para ahli menyebut rentang usia dua hingga empat tahun sebagai the terrible twos atau masa-masa dua tahun yang “mengerikan”. Ungkapan ini mungkin terasa berlebihan. Tetapi pada prinsipnya para ahli menyampaikan pesan dengan ungkapan ini bahwa anak-anak usia dua tahun hingga empat tahun sedang mengembangkan kemampuan mengatur, memaksa, menolak perintah dan melakukan tawar menawar terhadap aturan orang dewasa. Lebih-lebih jika diperintah secara tiba-tiba, mereka cenderung menunjukkan perlawanannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa mereka tidak bisa dipaksa.

Kecenderungan ini sangat alamiah. Setiap anak harus memiliki dorongan ini sebagai bekal untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai Sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Orang tua maupun guru di sekolah berkewajiban menumbuhkan sense of competence ini pada diri anak, terutama usia 4-8 tahun. Jika anak memiliki perasaan ini secara memadahi pada rentang usia 4-6 tahun, mereka akan lebih siap untuk memasuki fase pendisiplinan diri pada usia 7 tahun. Pada saat yang sama orangtua maupun guru di sekolah tetap berkewajiban membangun sense of competence hingga usia 8 tahun sehingga mereka memiliki citra diri, harga diri serta percaya diri yang baik.
TV

Mengapa fase pendisiplinan dimulai paa usia 7 tahun ? Ini terkait dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Belia bersabda, “Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun, perintahkanlah dia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat usianya mencapai sepuluh tahun, pukulah dia apabila meninggalkannya.” (Riwayat Abu Dawud)

Dalam Hadits ang diriwayatkan oleh Imam Al Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Ajarkanlah anakmu tatacara shalat ketika telah berusia tujuh tahun. Dan pukulah dia pada saat berusia sepuluh tahun (apabila meninggalkannya).” (Riwayat Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas kepada kita bahwa mendisiplinkan anak shalat dimulai pada usia tujuh tahun. Bukan usia sebelumnya. Kita perlu memberi pendidikan iman, akhlak dan ibadah sedini mungkin. Tetapi ada prinsip lain yang harus kita perhatikan: berikanlah pendidikan tepat pada waktunya. Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW dan sebaik-baik perkataan adalah firman Allah ‘Azza wa jalla, yakni kitabullah Al-Qur’anul Kariim.

Jadi, kalau anak yang belum berusia tujuh tahun tidak mengerjakan shalat, kita harus memaklumi dan melapangkan hati. Tugas kita adalah menumbuhkan perasaan positip terhadap kebiasaan yang ingin kita tumbuhkan, membangkitkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi) serta menjamin bahwa mereka memiliki harga diri yang tinggi. Kita memperlakukan mereka secara terhormat, tetapi bukan memanjakan.

Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT) berfirman, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang member rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi yangbertakwa.” (Thaahaa <20> : 132).


Sabar

Ah…, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakannya, kita haruskan mereka melakukan shalat bahwkan ketika usianya belum genap empat tahun. Arena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau.., kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah-payah beusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit. Lantas, apa hubungan denga televise? Mohon sabar menunggu pembahasan berikutnya. Wallahu ‘alam bishawab.


Sumber : Suara Hidayatullah/Juni 2008/Parenting

Tuesday, July 15, 2008

Qurrota A'ayun

Anak-anak adalah kebahagiaan
penyejuk hati
penepis kesunyian
pembawa ketenangan
tempat mencurahkan kasih sayang
kekuatan yang sanggup menghilangkan rasa penat dan lelah seketika

kami bisa bayangkan betapa sepinya rumah kami tanpa mereka
tak ada tawa
tak ada canda
tak ada suara jeritan-jeritan jenaka ketika anak-anak sedang bermain

Ya Allah,
sesungguhnya Engkau telah mengabulkan do'a kami
Engkau memberi kami anak-anak yang sangat manis
sebagai sebahagian kebahagiaan kami di dunia yang fana ini

Kami sadar
Anak-anak yang Engkau berikan adalah amanah dari-Mu
Sebagai kewajiban kami hamba-Mu

Oleh karena itu ya Allah
Berilah kami petunjuk dan kekuatan
untuk mendidik dan membimbing mereka
untuk mengenal Mu